Sabtu, 23 Maret 2013

Apakah Benar Kekuatan Militer RUSIA Masih Besar Di Mata Dunia

Kekuatan Militer Rusia: Masih Besar di Dunia



Ilustrasi kekuatan militer rusia
Suatu ketika, Hitler dengan Werhmacht dan Divisi Panzernya yang digdaya di daratan Eropa pernah diberitahu oleh bawahannya, Jenderal Guderian, agar jangan sampai menyentuh Rusia walau hanya satu sentilan karena kekuatan militer Rusia sangatlah misterius. Akan tetapi, Hitler menggila. Jangankan satu sentilan, wilayah Soviet Rusia seluas ribuan hektar diduduki dari utara ke selatan, dari kaki Moskow sampai Kiev. Tidak hanya itu Hitler pun menawan tak kurang dari 2 juta tentara Rusia, dan ratusan ribu diantaranya mati. Apakah Operasi Barbarossa berhasil?
Julukan negeri Rusia sebagai Negeri Tirai Besi, memang ada benarnya. Sesuatu yang di dalam tirai bisa tidak benar-benar jelas. Hal ini menunjukkan bahwa Rusia sejak dulu memang tertutup dan misterius. Rupanya alasan ini pula yang dikhawatirkan Jenderal Guderian yang melarang Hitler agar tidak menyentuh daerah Rusia. Tapi dengan langkah sporadis yang dilakukan tentara Nazi Jerman tersebut benar-benar berhasil atau sebaliknya mereka hanya menyentuh bagian permukaan saja ? Seperti meraba api dalam sekam, bagian atas hanya sedikit mengepulkan asap dan bukan api yang sesungguhnya, karena kekuatan sebenarnya benar-benar ada di dalam.
Ya, boleh saja Hitler berhasil menawan tak kurang dari 2 juta tentara Rusia, tapi apa sebenarnya yang terjadi ? Tentara Nazi Jerman telah keliru memperhitungkan kekuatan lawan. Boleh jadi ada 2 juta tentara ditawan tapi itu bukan berarti kekuatan Rusia benar-benar dilumpuhlan. Sejarah kemudian mencatat, bahwa itulah titik balik perang. Hitler meremehkan daya tahan perang orang Rusia yang terkenal gigih dan ulet. Darah orang Rusia telah dicampuri bangsa pejuang dari seluruh dunia. Bangsa Cossack, Mongol, Tartar, China, Jepang, India, Turki, Armenia, Russ, Hun, bahkan, Indian Eksimo telah bercampur menjadi satu kekuatan yang tak sembarangan orang bisa mengalahkannya. Tanah Rusia begitu luas. Pabrikan senjatanya disembunyikan di pedalaman lembah pegunungan Kaukasus. Pesawat pengebom sulit melewatinya. Mimpi buruk lainnya adalah teknologi senjata Rusia lebih maju dari Amerika Serikat sekalipun.
Sebagai negara yang berhasil menutup diri dalam arti sesungguhnya, kekuatan Rusia sulit diterka termasuk juga teknologi persenjataan yang telah dikuasai Rusia. Ada yang beranggapan kalaupun Rusia berhasil mengekspor peralatan militer termasuk di dalam tank perang, itu hanya bagian kecil dari kondisi persenjataan yang telah berhasil dikembangkan Rusia. Hal ini yang seringkali membuat negara lain ketar-ketir, karena jangan-jangan yang dijual adalah teknologi kelas dua sekalipun untuk ukuran negara lain termasuk teknologi kelas satu dalam hal aplikasi teknologi dan persenjataan dan peralatan perang tersebut.
Coba saja simak sejarah masa lalu yang benar-benar telah terjadi dan membuat mata dunia terbelalak. Bagaimana tank T34 yang merupakan tank kelas "satpam" di Rusia bertanding dengan Mark III Jerman. Sementara itu, Tank IS II yang merupakan tank perang sesungguhnya, mengungguli semua tank Jerman, termasuk, King Tiger dalam perang tank terbesar sepanjang sejarah di Kursk, Ukraina. Bahkan sekalipun telah mengeluarkan tank perang modern yang bisa mengungguli semua tank Jerman pada waktu itu, ini juga bukan kekuatan sepenuhnya yang ditampilkan oleh Rusia. Bisa benar bisa juga salah. Namun, bahwa keunggulan teknologi persenjataan perang yang telah dikuasai oleh Rusia sungguh tidak bisa dilihat dalam arti yang sesungguhnya. Semua pihak sifatnya baru meraba-raba. Namanya juga meraba, tingkat akurasinya bisa lima puluh prosen benar dan lima puluh prosen keliru.

Tentara Rusia Lebih Spartan 

Lebih dari itu, para pahlawan Rusia seolah tidak pernah habis-habisnya. Loyalitas mereka pada Tanah Air begitu spartan. Rusialah yang melempar wanita ke medan perang. Hasilnya, bikin ngeri tentara musuh. Dengan dikirimnya para perempuan Rusia ke medan perang, ingin menunjukkan bahwa perempuan yang selama ini dianggap sebagai kekuatan nomer dua bahkan telah berhasil menguasai medan perang. Tentu saja orang akan berpikir, perempuan saja bisa sehebat itu bagaimana dengan tentara laki-lakinya. Dan kekuatan ini pul lagi-lagi tak bisa gampang diterka selain direka-reka.
Lydia Litvyak merupakan salah satu pilot Ace dari angkatan udara Rusia dan salah satu dari dua Ace pilot tempur wanita di dunia bersama Katya Budanova. Senjatanya Lagg-3 merupakan pesawat tempur yang prestisius semasa perang. Tidak mengherankan bila kehadiran tentara perempuan dari Rusia ini telah mencuri perhatian dalam arti sesungguhnya.

Modern Russia dan Tanding Senjata

Seusai Perang Dunia II, peta kekuatan semakin jelas. Inggris bukanlah adidaya lagi, kekuatan lautnya tidak lagi utuh. Amerika Serikat (AS) pun begitu. Seusai perang, prajurit hanya ingin pulang. Namun, Rusia masih menyimpan ambisi mengenai superioritas senjata. Dan tentu saja superioritas dalam hal persenjataan itu benar-benar diwujudkan. Era perang dingin antara blok barat dan blok timur yang sebenarnya adalah saling berhadapannya antara Amerika dengan Rusia, semakin membuat pihak ketiga ketar-ketir. Kalau memang perang benar-benar terjadi, maka yang akan jadi korban bukan hanya kedua negara yang saling berhadapan melainkan banyak negara yang menjadi lalu lintas yang menghubungkan jalan kedua negara tersebut.
Semasa perang dingin, pihak Amerika terus menebar mata-mata yang sebenarnya ingin memastikan seperti apa sesungguhnya kekuatan dan teknologi persenjataan perang yang telah berhasil dikembangkan Rusia. Namun sekalipun banyak mata-mata yang berhasil memetakan kekuatan, bukanlah kekuatan yang sesungguhnya. Sebuah pabrikan persenjataan canggih misalnya, berada di sebuah tempat yang tersembunyi yang sampai sekarang tidak banyak negara mengetahuinya. Begitu pun dengan para insinyur yang menghabiskan tenaga dan pikirannya untuk aplikasi teknologi senjata canggih, juga tak bisa dipastikan seberapa jumlahnya dan dimana saja mereka bekerja. Jangan-jangan para insinyur itu bekerja berbaur dengan masyarakat biasa di pasar-pasar atau dengan bergabung dengan para petani. Dan bila ini benar-benar terjadi, maka untuk kesekian kalinya kekuatan Rusia memang misterius.
Jenderal George Patton, pimpinan divisi Panzer AS mengerti hal ini. Namun, beliau mati misterius dalam "kecelakaan" mobil setelah telepon terakhirnya ke markas komando untuk menghantam kekuatan Rusia mumpung sedang lengah. Kejadian ini kemudian dihubung-hubungkan dengan begitu rapih dan loyalnya para mata-mata dari Rusia yang bergentayangan dimana-mana, sehingga jumlahnya tak bisa dipastikan ada berapa.
Akhirnya, Rusia sulit dihentikan. Produksi senjatanya memaksa Amerika Serikat melakukan hal yang sama. Ketika AK 47 tercipta, ditandingi dengan senapan serbu M16. Ketika Izhevsk Mechanical Works mengenalkan yang lain sejenis AK 74, AS menandinginya pula dengan senapan taktis M4. Ketika Tank IS III berkeliaran, AS memberikan varian tank M1 A.
Begitu pula ketika jet  F-16 tertandingi oleh Su 27 flanker, AS mengenalkan jet stealth F-22. Ketika nuklir Rusia mencapai 4279 hulu ledak lebih, AS kelewatan dengan menumpuknya menjadi 5966 hulu ledak nuklir.
Seolah tidak ada habisnya perlombaan "ketololan" ini. Dunia beberapa kali jadi korban perang senjata. Namun, pada akhirnya, perlombaan senjata ini berhenti ketika Rusia menjadi korban korupsi dan kroni. Tikus-tikus korupsi dan kroni memang berhasil menggerogoti dari dalam sehingga kekuatan finansial yang selama ini rahasia dan terkendali malah terus berkurang, sehingga mengganggu kecepatan dan kesempatan untuk terus mengembangkan senjata.

Tidak ada komentar: